logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Misteri Hantu Leak Part 2

Tanpa buang waktu, hana pergi ke arah berlawanan terus berlari, tanpa melihat ke belakang.

"aku harus mencari lemari..." ucapku terengah engah, di jalan lorong ia menemukan tempat yang

berisi lemari pakaian dan juga kasur. Tanpa buang-buang waktu, hana masuk kedalam lemari pakaian

sambil mematikan obor, pintu lemari itu ada sedikit lubang.

"apa leaknya sudah pergi?" pikirku sambil tetap melihat ke arah lubang dan memegang pintu lemari

pakaian.

Detak jantungnya berhembus cepat, seakan akan memekakkan telinganya. Lalu dari arah pintu

terdengar suara ketukan sambil mendorong, sudah jelas itu suara kepala leak yang membuka pintu.

Hening sejenak...

kulihat dari lubang itu leak mengendus kasur, lalu ia berhenti mengendus dan...

sekarang ia menatapku... aku tahu dari sorot matanya kalau dia menatapku, matanya sungguh

mengerikan... ia terbang ke arah lemari sambil terus menatapku dari lubang itu, aku menjauh dari

lubang tanpa memegang handel lemari, terpojok dengan sempitnya lemari, "Jangan bunuh aku..."

bisikku penuh ketakutan, lalu kudengar suara handle lemari di buka, pasti giginya yang membuka

lemari itu.

Aku menyesal dalam hati kenapa kakek melakukan semua ini? kenapa hanya demi harta yang kecil

nilainya justru sanggup mengorbankan keturunannya? aku terus menyesal walau ku tahu itu semua

salah, aku tahu ini akhir hidupku.

Lalu leak itu sudah ada dihadapannya, lebih tepatnya diatasnya karena ia sendiri jongkok penuh

ketakutan, lalu leak itu bertambah dekat... sangat dekat… dan… "Argghh"

"Kamu kenapa sayang?" tanya sean sambil melirik diriku yang melotot kearahnya dengan wajah

penuh ketakutan.

"aku bertemu leak dimimpiku, ternyata leak itu adalah wanita yang kutemui di mal 2 hari yang lalu,

kurasa ini hari terakhir kita mas..."

"hari terakhir? apa maksudmu?" tanya sean sambil memicingkan mata.

"huft.. jadi 3 benda itu adalah bagian tubuh leak, aku baru tahu sekarang setelah melihat lipstik yang

ternyata jari tangan, dan pemetik gitar (pick) ternyata kuku kaki,"

"apa? jadi yang ku bawa kepunyaan leak itu?" gumam sean dengan jijik, setidaknya dia tidak muntah.

"iya, kamu memang tidak bisa melihat hal itu mas. tapi aku yakin dengan semuanya ini, makanya

kita harus ke tempat nenek"

"ya, kamu benar.. tapi sekarang aku sedang berpikir cara menakuti leak, kamu ada ide?"

"kurasa dengan obor sayang... kita harus buat obor."

"oke, aku bakal cari batang bambu. kamu siapkan kain dan juga minyak tanah, kira-kira untuk

sampai ke rumah nenekmu berapa lama?" tanyanya penuh harap.

"aku tak tahu berapa lama, mungkin 4 jam" ucapku mengira-ngira, karena memang semenjak

tumbuh remaja tidak pernah ke tempat itu lagi, cukuplah sekali ke tempat itu... tapi dengan

tersenyum getir menambahkan. mungkin dua...

Akhirnya di hari terakhir itu, jam 4 pagi kami siap pergi ke rumah nenek, berharap ada buku atau

diary yang mampu mengungkapkan cara membunuh leak itu.

aku menatap kosong ke arah pedesaan dari balik kaca mobil, tak memikirkan makanan karena selain

tidak berselera makan, juga pastinya isi perutnya bakal habis di makan leak, yah setidaknya ini cara

terakhir dan paling pasrah sebelum di santap leak, sekali lagi biar leak gak suka isi jeroanku hehe,

"kamu kenapa tersenyum sayang?" ujar suamiku dengan tampang sinis, jelas sekali dia tak yakin apa

yang kupikirkan.

"mengingat kondisimu saat ini, aku berani bertaruh isi kantongku sekarang juga" ujarnya lagi

sambil tersenyum mengejek.

aku yang mendengarnya tak berkata apa-apa, lagi pula buat apa memberitahu sesuatu yang akhirnya

diselingi tawa? yah setidaknya skenario seperti itu yang ia tahu.

kami berdua terdiam penuh konsentrasi, suamiku memikirkan jalanan yang penuh batu karena

mereka sudah memasuki daerah terpencil, sementara aku hanya sibuk memikirkan akhir hidup dan

Sesaat aku terdiam melihat benda aneh di lubang tempat menaruh recehan seperti pada angkot,

setidaknya itulah yang ada dipikiranku, lalu kuambil yang ternyata kapur krem dengan bentuk agak

aneh, ada lekuk seperti pada jari manis kaki…

"ini benda leak" pikirku sambil membuka jendela mobil lalu membuang kapur yang sempat berubah

menjadi jari tersebut. Sejenak sean melirikku yang bertambah pucat,

"kamu kenapa?" tanyanya heran.

"sepertinya... yang kupegang tadi benda terakhir, sebaiknya kita cepat-cepat ke rumah nenek, kurasa

leak itu sedang mengarah ke sini,"

"hmm, aku sebenarnya ingin berkata sesuatu padamu, sepertinya aku hanya berputar di rute yang

sama" bisiknya pelan.

"kamu bercanda kan?" kataku setengah tak percaya karena rutenya sudah kuberitahu.

"aku gak bercanda, sepertinya ada yang aneh. Lebih baik aku tanya ke penduduk sini, tunggu

sebentar".

Suamiku keluar mencari warga desa untuk mencari rumah peninggalan nenek, terlihat ia berhasil

menemukan tukang kayu panggul dan orang itu menunjuk lurus dan membisikkan sesuatu.

Beberapa menit kemudian ia tiba di mobil dengan tersenyum masam.

"penduduk sini bilang jika orang asing sering tersasar di daerah ini, kecuali ada seseorang yang

pernah atau memiliki ikatan di kampung ini"

"baiklah, aku yang nyetir kalau begitu, mudah-mudahan aku masih ingat jalannya" jawabku sambil

berpindah tempat duduk, mobil terus berjalan menyusuri kawasan hutan, hanya ada jalan berbatu

yang cukup untuk satu kendaraan, kami tiba di sebuah rumah yang hancur sebagian.

"ini dia tempatnya" ucap hana lalu menambahkan, "sekarang jam 6, kita harus cepat menemukan

diary itu".

"sebaiknya aku membawa 2 obor," ucap sean sambil berlari ke mobil membawa obor yg telah di beri

minyak lalu dinyalakan.

kami pun menyusuri rumah yang sudah tak berpenghuni, dan entah dari mana datangnya, angin

kencang menerpa mukaku dengan sangat ganas, diikuti suara cekikikan tawa yang memekakkan

telinga, aku dan suamiku lalu langsung memasuki rumah itu,

"cepatlah kita tak punya waktu" ujar resah suamiku sambil mengawasi sekeliling tempat, aku yang

pergi ke tempat yang penuh buku lalu mengobrak abrik buku tersebut, tak sengaja menjatuhkan buku

yang dilapisi cap darah.

"sepertinya ini bukunya" bisikku senang, lalu mulai membuka satu persatu kertas itu yang berisi

perjalanan hidup nenek dan saat-saat ia tahu pesugihan suaminya, semuanya tertulis di buku ini,

buku ini lebih dari sekedar diary, ini adalah jiwa nenek. pikirku, aku beralih kebagian tengah buku

yang ternyata terdapat robekan, ternyata robekan itu sama dengan kertas yang selama ini ku baca,

aku dengan tidak sabaran membaca kalimat yang agak acak, entah karena di tulis sambil menggigil

atau... Gusrakk...

"hana, lari dari sini..." teriak sean yang telah di tabrak hantu leak. obor yang dipegangnya terpental

ke arah tumpukan kertas sehingga membakar seisi rumah,

"Tidak" aku menjerit melihat suamiku yang menatap nanar padaku, seakan akan menyuruhku pergi

dan bergumam tanpa kata yang seakan akan hendak mengatakan, KESELAMATANMU ADALAH

SEGALANYA, leak itu sudah menggigit jantungnya lalu dengan buas menyantap isi perutnya.

Sungguh kejam, seharusnya aku saja yang mati.

aku berlari sambil membawa diary itu, ingin rasanya ku mati mengikuti jejak suamiku, tapi dari

matanya kutahu ia ingin aku tetap hidup. AKU BERJANJI AKAN MENJAGAMU.

itulah kata suamiku, dengan berurai air mata aku berlari ke arah mobil, dan kulihat dibelakang leak

itu terbang mengejarku, dengan tawanya yang membuat bulu kuduk merinding, derau angin

bertambah cepat sedangkan pintu mobil tak bisa terbuka.

"ayolah buka!" aku semakin cemas, leak itu tinggal beberapa meter lagi kearahku, dengan rambut

panjang dan mulut penuh darah ia tertawa "hi... hi... hi..."

aku mengeluarkan seluruh tenagaku hingga akhirnya pintu mobil terbuka, lalu aku langsung masuk

dan mengunci pintu tepat sebelum leak itu menabrak kaca pintu mobil.

"syukurlah untung sudah di tutup kacanya," ujarku tapi kemudian dalam hati, pintu samping belum

di tutup, aku melihat leak itu yang sepertinya tahu jalan pikiranku, lalu ia terbang tepat memutar

kaca jendela untuk menutup mobil, tapi ia sudah seperempat masuk, kepala leak ini kuat sekali, lalu

kunyalakan obor sambil menyodorkan tepat ke wajahnya, lalu leak itu terbang menjauh, kesempatan

itu tak kuabaikan, langsung saja kututup kaca yang telah berlapis darah dan langsung tancap gas.

Diperjalanan menuju pulang aku melihat leak masih terbang di belakang mobil, kesempatan itu

kugunakan untuk menarik gigi, aku langsung berhenti dan memundurkan mobil secepat mungkin,

lalu leak itu tertabrak kaca belakang trus bergelinding di atas mobil menuju bawah mobil, aku

memundurkan mobil lagi,

"matilah kau Leak!" ucapku dengan penuh kemarahan lalu melindas kepala leak itu, setidaknya dia

sudah mati, pikirku sambil terus memacu mobil, diperjalanan pulang aku membaca kembali diary

itu, membaca bait terakhir yang tertulis bahwa leak hanya akan mati dengan pisau, dan pisau ini

terletak di rumah anaknya, sengaja ia kubur di ruang tamu tepat di bawah lampu.

"jadi di rumah ibuku ada pisau itu," seandainya pisau itu dari dulu kutemukan, mungkin 3 nyawa

manusia telah tertolong, bisikku dengan penuh air mata,

"mas... maafkan aku..."

Akhirnya setengah 12 malam aku tiba di rumah dengan membawa 7 obor, semua pintu dan jendela

aku kunci, tepat di ruang tamu aku membuat lubang disekeliling untuk tempat 6 obor, lalu

kunyalakan sambil membongkar ubin.


"ayolah cepat..." cemasku sambil menggali lebih dalam berharap bertemu pisau itu, lalu tak terasa

saat di gali seperti menimpa suatu mirip besi, lalu kukorek yang ternyata lebih mirip pedang,

Kemudian ku baca sekali lagi diary itu, yang tertulis, "potonglah organ leak itu agar membebaskan

jiwa".

"kenapa ada baris kosong di akhir kalimat ini?" lalu ucapan itu tak dicernanya, karena leak itu

terbang ke arah jendela, memecahkan kaca dan terus menuju kearahku.

aku yang melihatnya, tak merasa takut...

Saat leak mengarah kearahku lalu ku tebas organ di bawah kepalanya, kepala itu jatuh sambil

menatapku.

mata itu terlihat berkaca-kaca dan tersenyum melihatku, seakan-akan apa yang dikatakan diary itu

benar, jiwa leak ini telah bebas, lalu ku lihat di sudut matanya seperti menatap erat padaku, seakan

akan mengatakan satu kata yang mustahil di ucapkan, karena di mata itu tersirat kata MAAF, dan

kemudian akhirnya leak itu sirna seiring dentang jam menunjuk jam 12.

dua hari kemudian, sekarang aku telah bebas, dan mengunjungi rumah nenek kembali, sekaligus

membawa jasad suamiku dan mengembalikan diary itu, setiba di sana, jasad suamiku kumakamkan

di samping makam nenek di bantu penduduk setempat, sebelum di makamkan aku sempat

mengambil kaca pembesar di kantong celana almarhum suamiku, lalu sebelum ku kembalikan diary

itu, aku membuka bagian terakhir diary itu tapi tiba-tiba foto seorang wanita terjatuh, tertulis di sana

bernama Magdalena, itu memang nama nenek, tapi setelah melihat wajah itu…

bukankah ini wajah wanita itu...? bagaimana mungkin?.

kemudian, kuarahkan kaca pembesar di baris kosong tersebut... lalu paru paruku seakan tersedot

keluar, karena leak yang dibunuh adalah... Nenek ku sendiri.

Misteri Hantu Leak Part 1
Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2013. NONTON BOKEP, DOWNLOAD BOKEP, STREAMING BOKEP - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger jasa seo | Created By ThemeXpose | viagra | | mebel jepara | alat bantu sex | produk moment service sofa bandung | vimax jasa seo | jasa seo medan vimax tukang taman surabaya | mebel jepara jual bambu medan mebel jepara SERVICE SOFA BANDUNG | perangsang wanita JASA SEO VIMAX ASLI OBAT PEMBESAR PENIS JUAL OBAT ABORSI OBAT PEMBESAR PENIS OBAT PENGGUGUR KANDUNGAN OBAT KUAT VIAGRA OBAT KENCING NANAH VIMAX ASLI Obat pembesar hammer of thor OBAT PEMBESAR PENIS Hammer of Thor Hammer of Thor service sofa bandung TUKANG TAMAN SURABAYA VIMAX RENTAL MOBIL MEDAN TUKANG TAMAN SURABAYA RENTAL MOBIL MANADO TOKO BUNGA BANDUNG