logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Cinta Tak Direstui

“Pokoknya Kakak gak setuju kamu dengan si Surya!”
“Duarrr!!”
Suara pecahan piring menyelimuti suasana malam ini. Sepulang pergi bersama Surya. Surya lelaki yang kini menjadi kekasihku. Hubungan kita baru berjalan sekitar satu bulan. Tetapi sampai sekarang belum ada restu dari Kakak-Kakakku. Kakak yang selama ini membiayai sekolahku dengan perjuanganya. Tak dipungkiri aku tak mampu melawannya, itu semua sudah menjadi kehendak Kak Rany.
Nama ku ICha, salah satu siswi menengah kejuruan di Batam. Semenjak orangtuaku meninggal aku transmigrasi dan tinggal bersama Kakak di Batam dan melanjutkan sekolah di sini.
Hubungan yang dijalani tanpa restu keluarga memang susah. Semua memang berawal dari Surya yang salah mengambil tindakan. Malam itu aku, Surya dan Yani sahabatku jalan–jalan melewati malam minggu bersama.
Seperti biasa Yani bersama pasangannya. Saat itu kami berkumpul di rumahku. Surya pun datang menjemputku, kebetulan di situ selain ada Yani dan pacarnya juga ada Kak Rany Kakakku. Ketika aku sudah memboncengnya, Surya langsung menarik gas motornya di hadapan Kakakku tanpa berpamitan. Dan itulah yang membuat Kakakku marah besar.
“Laki–laki macam apa itu, membawa anak gadis orang tanpa izin! besok–besok gak usah lagi jalan sama dia. Kayak gak berpendidikan saja si Surya!”
Memang Surya laki–laki yang datang dari kampung. Datang dengan membawa selembar ijazah SMP pendidikan terakhir dia. Hal itulah yang salah satu membuat Kakakku tidak merestui hubungan ini. Keluargaku memang lebih mementingkan pendidikan dan kualitas kerjanya, tetapi aku ambil positifnya aja bahwa mereka melakukan ini karena mereka ingin yang terbaik buat masa depanku.
Angin berhembus menusuk hati, ketika Surya mengatakan “apa maumu sekarang, mending aku mati aja Cha kalau kamu mau mutusin aku?” Sifat dan egonya memang belum bisa dikendalikan walaupun dia dua tahun lebih tua dariku namun sifatnya masih kekanak–kanakan. Semua ini membuat aku drop. Aku yang berusaha meyakinkan hubungan ini sama keluargaku tapi Suryanya masih saja menekanku dengan sifat posesif dan egonya.
“Aku mencintaimu Cha, apa perlu aku bilang sama keluargamu sebagai permohonan maafku?”
“Nggak usah ya, belum waktunya” Jawabku sambil menahan tangis.
“Kenapa Cha? kenapa setiap aku ingin silaturahmi ke rumahmu selalu kamu larang?” Tanya Surya menahan amarah.
“Bukan gitu Surya, tapi aku, aku takut. Aku..”
“Kamu takut Kakakmu, atau latar belakangku yang gak setinggi kamu? kamu malu kan?”
“Gak ya, tapi aku..”
“Dari awal kan aku dah bilang aku hanya orang biasa yang gak berpendidikan dan mempunyai kerjaan yang rendahan tiap hari cuma berkhayal kalau aku bisa lanjut sekolah suatu saat nanti”
Itu kalimat yang tidak asing buatku. Karena setiap kita barantem hanya kalimat itu yang diucapkan Surya. Bukannya berusaha meluluhkan hatiku yang sedang marah, tapi malah dianya yang selalu merendahkan diri dan pada akhirnya aku yang mengalah.
Hubungan yang dilandasi karena iba, kini harus kutanggung resikonya. Meski sampai sekarang aku belum ada rasa sama dia. Bisa dihitung jari proses perkenalan kita yang hanya berapa hari. Dan sampai sekarang pun aku belum yakin dengan perasaan dia terhadapku.
Bimbang itulah yang kurasakan saat ini. Keputusan mana yang aku pilih, pacar yang belum tentu masa depanku atau keluarga yang mementingkan derajat kegengsian. Sempat ku berpikir untuk mengakhiri hubungan ini tapi aku takut untuk menyakiti dia. Karena aku percaya akan “Karma Kehidupan”.
Karena aku pernah merasakan betapa sakitnya mencintai orang tapi orang tersebut malah menyia-nyiakan cintaku. Ini memang semua salahku yang menyia–nyiakan dia terlebih dahulu dan memutuskan tanpa sebab sampai aku tidak bisa merasakan perjuangan dan pengorbanan cintanya terhadapku dulu.
Sejak itu aku tak ingin semua itu terulang kembali. Memang wanita itu lebih baik dicintai dari pada mencintai. Meski itu susah buat dilakukan secara nyata.
Tok! Tok! Tok! “Cha, Cha?”
Tiba–tiba suara Kak Wahyu mengganggu lamunanku di kamar ini. Segera kuhapus air mata yang tak terasa membanjiri pipiku.
“Cha buka Cha, kita jalan–jalan yuk” Ajak Kak Wahyu yang kebetulan dia baru datang dari Kalimatan. Dia Kakak nomor dua dari lima bersaudara.
“iya Kak, tunggu sebentar aku ganti baju dulu”
“Iya Kakak tunggu di luar ya”
“iya Kak..”
Beberapa menit kemudian aku pun keluar dengan dandan ala kadarnya.
“Jeleknya Adik Kakak ini, masa mau jalan–jalan gak ada polesan sedikit pun, sih”
“Udah deh Kak, kan cuma mau keliling daerah terdekat aja kan?” Jawabku dengan nada kesel.
“Hmmm, ngambek nih ye. Yaudah cepet naik”
Tanpa menjawabnya aku pun dibonceng Kak Wahyu yang udah menungguku agak lama. Kak Wahyu memang sudah tahu mengenai hubunganku dengan Surya yang tanpa restu. Di tengah perjalanan Kak Wahyu berusaha menghiburku dengan gaya kegilaannya yang membuatku sakit perut mendadak.
Sedang asyik mengobrol tiba–tiba ada dua motor menghadang kami. Kak Wahyu secara spontan mengerem mendadak dan hampir kami terjatuh. Pukulan mengenai mata kanan Kak Wahyu, ketika kami mau turun dari motor. Kak Wahyu tergeletak di pinggir aspal. Tak ada satu pun orang atau kendaraan yang lewat jalan sepi itu.
“Kaaak!!” Teriakku sambil memegang lengan Kak Wahyu.
“Makanya jadi cowok gak usah banyak gaya, tahu gak kalau Icha ini cewek aku hah!” Teriak pemuda itu sambil melepaskan helm yang dipakainya. Dan ternyata pemuda itu sesosok lelaki yang tak asing lagi.
“Surya?”
“Ya aku Surya, kenapa mukanya kaget gitu. Bagus yah gak jalan sama aku kamu jalan dengan lelaki lain. Dasar cewek murahan!”
“Cukup! aku cape Surya dengan sifatmu yang selalu kekanak–kanakan, kamu tuh bukannya bantu aku meringankan bebanku malah menambah beban. Asal kamu tahu itu Kakakku, Kak Wahyu”
“Apa? Kakakkmu? ya ampun Cha aku minta maaf, aku gak tahu”
“Makanya kalau mau melakukan sesuatu dipikir dulu, semua bisa diselesaikan secara baik–baik!. Surya kamu itu semakin hari semakin tua seharusnya sifatmu lebih dewasa sedikit jangan makin menjadi–jadi saja”
“BBUUGGHHH!” Pukulan pertama Kak Wahyu untuk Surya.
“Jadi ini pacarmu, dasar laki–laki gak tahu diri!” Bentak Kak Wahyu sambil mendorong Surya sampai terjatuh.
“Sudah Kak, sudah” Kataku sambil menangis.
“Benar kata Kak Rany, memang laki–laki ini gak punya sopan santun dan rasa hormat sama yang lebih tua. Sampai kapanpun Kakak juga gak akan pernah merestui kalian”
“Maaf Kak, tapi saya mencintai Icha, tolong izinkan saya bersamanya” Kata Surya memelas.
“TIDAK AKAN PERNAH!”
“Cha?” Panggil Surya dengan memalingkan wajahnya kepadaku dan menatapku penuh harapan.
“Maafkan aku Surya, aku gak bisa berbuat apa–apa karena semua ini ulahmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi sesosok kekasih yang kamu harapkan. Tapi beginilah aku yang penuh kekurangan dan tak bisa mengikuti alur berpikirmu”
Aku pun melangkah menuju motor itu dengan menarik tangan Kak Wahyu. Kami pun pergi dengan meninggalkan Surya dan gerombolannya.
“Cha, kemarin si Surya ke rumahku loh. Dia nangis sampai tissue di rumahku habis. Kasihan Cha aku gak tega melihatnya”
“Tapi gimana Yan, aku udah berkali–kali nasihatin dia agar dia bisa lebih dewasa tapi pada nyatanya dia malah makin membuatku terpojok”
Entah apa yang dipikirkan aku saat itu. Lagi–lagi aku galau dan galau. Yani yang sedang main ke rumahku dan seperti biasa jadwal yang tak boleh dilewatkan yaitu ngegosip. Tapi sayangnya kali ini aku tak mampu berkata–kata lagi. Apa yang Yani bicarakan pun aku tak peduli. Yang ku pikirkan sekarang adalah bagaimana mempertahankan hubungan ini dengan restu keluargaku.
“Kring, Kringgg, kringgg” Tersentak aku mendengar suara dan getaran handphone di saku celanaku. Ku ambil dan kulihat siapa orang yang meneleponku. Tetapi sayang nomornya dirahasiakan oleh peneloponnya.
“Kenapa diam Cha? angkatlah!”
“Entah nih. Nomornya di privat, bikin males aja”
“Siapa tahu penting, angkat aja”
Tanpa menjawab perintah Yani yang ngotot minta diangkat aku pun tak mempedulikan panggilan tersebut. Tiba–tiba ada motor berhenti di depan rumahku. Tanpa diduga ternyata si Surya. Aku pun kaget bukan kepalang. Meskipun malam ini Kakakku pergi dengan teman–temannya, tapi tetap saja perasaan takut ini terlintas di hatiku. Aku takut Kakaku melihat Surya di sini.
“Surya! ngapain lagi kamu kesini? nanti kalau Kakakku tahu bisa lebih parah urusannya”
“Cha, aku cuma mau nanya kenapa telpon ku gak diangkat tadi? aku kan gak bisa sehari aja tanpa ada kabarmu. Aku rindu suaramu Ichaku sayang”
“Cukup Surya, semua itu karena ego dan sifat kekurang dewasaanmu! aku tertekan! setiap kali yang kupikirkan adalah hubungan kita tapi kamu malah membuatku terpojok gini. Ketika keluargaku memaksa untuk menjadikanku seperti apa yang merea inginkan kamu seharusnya memotivasiku membuatku semangat menjalani hari–hariku untuk lebih berwarna. Sedangkan kamu hanya bisa mengatakan cinta, cinta, tapi tak mau membuktikannya dengan keluargaku”
“Tapi Cha.”
“Icha!” Belum aja Surya berkata, tiba–tiba ada yang berteriak dengan suara khasnya dan aku pun tak asing lagi dengan suara itu.
“Kak Rany, Kak Wahyu kalian udah pulang?”
“Jadi kamu diam–diam ketemuan ketika Kakakmu pergi? bagus ya!”
“Icha kamu masuk! dan kamu Yani pulang sekarang!”
“Iya Kak” Jawab Yani dan dia pun langsung pergi meninggalkan kami semua.
“BUUGGHHH” Hantaman kepalan tangan Kak Wahyu menyentuh perut Surya. Dan aku hanya bisa menangis melihat semua ini.
“Lebih baik kamu pulang sekarang anak brandal!” Bentak Kak Rany dengan mengeluarkan kata–kata yang tak sepantasnya keluar dari mulutnya.
“Suryaaaa!” Teriaku sambil berlari memeluknya.
“Maafkan aku, tak ada niat sedikit pun aku menyakitimu. Tapi keadaanlah yang membuat kita seperti ini. Percayalah kau akan temukan wanita yang jauh lebih baik dariku yang mampu membuatmu jauh lebih baik dari segi apapun dan yang pasti bukan aku”
“Cha..”
“Sudah Icha, terlalu baik kamu buatnya! ayoo masuk!” Bentak Kak Rhany sambil menariku masuk ke kamar dan menguncinya.
“Pulang kamu sekarang!” Usir Kak Wahyu yang saat itu masih menanti Surya beranjak Kaki dari situ. Dan akhirnya Surya pun pergi.
“Yakinlah Cha, Kakak lakukan ini karena kami sayang sama kamu” Hanya kata itu yang kudengar dari Kak Wahyu dan Kak Rany di balik pintu kamarku. Aku pun hanya terdiam menahan tangis lara hati.
Sejak kejadian itu aku dan Surya tidak pernah berhubungan lagi. Aku percaya ya Tuhan semua atas kehendakmu dan jika aku berjodoh dengannya satukanlah cinta kami dengan sentuhan lembut tanganmu dan atas dasar restumu. Dan jika aku tak berjodoh dengannya, doaku ya Tuhan buatlah dia bahagia dengan wanita pilihanmu yang jauh bisa membuat dia merasa sempurna.
Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2013. NONTON BOKEP, DOWNLOAD BOKEP, STREAMING BOKEP - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger jasa seo | Created By ThemeXpose | viagra | | mebel jepara | alat bantu sex | produk moment service sofa bandung | vimax jasa seo | jasa seo medan vimax tukang taman surabaya | mebel jepara jual bambu medan mebel jepara SERVICE SOFA BANDUNG | perangsang wanita JASA SEO VIMAX ASLI OBAT PEMBESAR PENIS JUAL OBAT ABORSI OBAT PEMBESAR PENIS OBAT PENGGUGUR KANDUNGAN OBAT KUAT VIAGRA OBAT KENCING NANAH VIMAX ASLI Obat pembesar hammer of thor OBAT PEMBESAR PENIS Hammer of Thor Hammer of Thor service sofa bandung TUKANG TAMAN SURABAYA VIMAX RENTAL MOBIL MEDAN TUKANG TAMAN SURABAYA RENTAL MOBIL MANADO TOKO BUNGA BANDUNG