logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

TAMAN KENANGAN

Hari ini tanggal 31 Juli, bertepatan dengan hari ulang tahunku. Uh… sangat menyebalkan! Semua orang seakan menjauh. Entah mungkin sengaja atau mungkin memang mereka lupa, Ibuku pergi ke Jogja dan belum pulang sampai sekarang. Sementara ayahku selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Andai mereka mengetahui perasaanku, Aku ingin marah tapi tak bisa, ingin sedih juga tak ada gunanya. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan ke taman kecil di pinggir danau untuk mencari udara segar. Walaupun masih sedikit gerimis, aku tetap nekat menuju kesana.

Sore itu, aku masih ingin menatap indahnya mentari senja. Kulihat banyak burung-burung berterbangan berpasang-pasangan. Lukisan langit yang indah sore ini, andai saja ada seseorang yang bisa menghiburku, pasti aku tak akan merasa sesedih ini. Disini dikota Padang ini, aku menanti sebuah keajaiban.
Taman Kenangan
Aku menyandarkan tubuhku pada batang sebuah pohon besar, menghadap ke sungai dan menujukan lamunanku kedalamnya. Oh tuhan.. betapa tenangnya disini…, tiba-tiba lamunanku terpecah.
“Siapa sih iseng banget? Ngelemparin batunya ke arah lain bisakan?”
“Eits.. maaf aku kira nggak ada orang, kamunya sih pake sembunyi dibelakang pohon segala, mirip nyi kunti tau? Hehe maaf ya?”
“Ya udah gapapa, tapi aku kok aku jarang liat kamu ya? Kamu siapa sih?”
“Aku Dimas Fernanda, biasa dipanggil Dimas. Rumahku di RT 07 diseberang jalan, aku baru pindah seminggu yang lalu”. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa garing. Tiba-tiba dia berbalik bertanya padaku
“Aku kan udah ngasih tau siapa aku, nah sekarang gentian kamunya lagi dong..”
“Namaku Arzelia, panggil aja Arzel. Aku juga tinggal di RT 07 diseberang jalan, mungkin aja kita tetanggaan”.
Rasanya aku ingin memukul kepalanya yang aneh itu, dia membuatku kesal karena langsung meninggalkanku begitu saja tanpa sedikit basa-basi. Ahh… tidak sopan. Tapi biarlah, lagi pula sudah hampir malam, suasana disekeliling danau juga sudah mulai gelap. Mau tidak mau aku harus pulang sendirian.
***

Berhari-hari sudah ibuku meninggalkanku, Aku hanya bisa memandangi fotonya saat ini. Fotoku bersama Ayah dan Ibuku. Disini aku selalu merindukannya, bahkan walaupun itu saat-saat dimana seharusnya mataku terpejam.

Dering nada handphone membuat aku kaget, segera kuraih benda itu. Kulihat layarnya dan disana kulihat ada nomor asing yang masuk.
“Halo?”
“Halo juga, emm ini aku dimas, itu lho yang ketemu kamu ditaman tadi” Jelas orang itu
“Oh, dimas,, ngapain nelfon malam-malam gini? Lagi banyak pulsa ya?” ejekku menggodanya.
“Pengen kenalan nih, maukan kamu jadi temanku?”

Aku menatap kembali foto-foto keluarga yang saat ini ku pegang, dengan tatapan kosong. Aku terhanyut dalam lamunan. Mengandai-andaikan jika saja orang tuaku berada disisiku saat ini.
“Eh.. kok diem aja sih?” Tegurnya membuyarkan fikiranku.
“Apa tadi? Apa? Ngobrolin apa?”
“Mau nggak temenan deket sama aku?”
“Boleh, toh lagian aku juga sendirian, nggak punya temen deket. Sahabat-sahabatku rumahnya jauh” Jelasku mengatakan padanya, walaupun sedikit berkesan seperti curhat.

Kamipun banyak bercerita tentang keseharian kami. Baik kebiasannya dirumah, hobinya, bahkan apa-apa yang tidak ia sukai. Akupun bercerita hal yang sama padanya. sepertinya aku mulai menyukainya, ia mendengar apa yang ku katakan dengan baik. Belum genap satu hari kami saling mengenal tapi rasanya aku seperti sudah lama mengenalnya.
“Upz.. udah malem nih, kamu ngga dimarahin telponan sampai larut malam begini?”
“Ayahku udah tidur, tinggal aku sendirian, tapi aku juga udah ngantuk sih”
“Ya udah, good night ya, nice dream”
“Night, papay dimas hehe” Ejekku sambil menutup telponnya.

Aku sangat bahagia malam ini, walaupun tak ada seseorangpun yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku, setidaknya dimas sudah bisa membuatku tertawa sebelum memejamkan mata untuk menatap mimpi-mimpi yang akan menghiasi mala mini dan tetap berharap ada keajaiban diesok pagi.
***

Pagi ini hari libur, aku ingin bersepeda berkeliling taman. Tapi Dimas menghampiriku, ia mengajakku untuk jalan-jalan. Ya, akupun menurutinya. Segera ku taruh sepedaku didepan gerbang yang ada disekitar halaman rumahku. Anehnya setiap kali aku melihatnya pasti dia mengenakan jaket dan sarung tangan. Hal ini sempat membuat aku curiga, ah tapi itu bukan permasalahan yang besar. Yang penting aku bahagia mendapatkan sahabat sepertinya.
Selama ini aku tidak pernah menduga, ternyata memiliki teman dekat itu sangat-sangat penting. Karena yang terbesit dalam fikiranku hanyalah bagaimana mengatasi masalahku sendiri, mengurus hidupku dan menjalaninya. Mengkin aku egois, tapi aku sebenarnya tidak ingin seperti itu. Kinipun aku tak hanya bisa bercengkrama dengan sahabatku sebatas karakter sms semata. Dimas, sosoknya nyata untukku. Seakan memiliki seorang kakak, aku berusaha menjadi adik yang baik untuknya.
“Dimas.. aku boleh nanya sesuatu nggak?” tanyaku dengan sedikit menundukkan kepala, ya mungkin karena aku sedikit gugup ketika berbicara tentang permintaanku padanya.
“Iya? Tanya apa zel?”
“Mau nggak kamu jadi kakak-ku?”
“Serius? Kamu nggak malu jadi adik ku? Aku kan jelek, nanti kamu diketawain sama teman-temanmu”
“Ih.. ya enggak lho, mau ya? Hehe”
“Tapi janji ya, kamu nggak boleh malu. Juga kamu nggak boleh nakal sebagai adikku”
“Janji deh kak dimdim” ejekku menggodanya
“Janjinya Arzel kakak pegang. Kalau sampai Arzel ingkar, kakak bakal ninggalin arzel”
“Wih, ancamannya sadis. Tenang aja, percayakan semua pada Arzel hehe”
“Janji diterima, kembali ke tempat dan laksanakan haha”
“Ih.. aku serius tau! Malah dimainin”
“Iya deh, mulai sekarang Arzel jadi adiknya kak Dimas ya…” Jelasnya, memastikan agar aku benar-benar mengiyakan janjiku.

Dimas adalah sosok kakak yang benar-benar tulus menyayangiku. Tak ada yang bisa menggantikan dia, bahkan rasanya aku seperti sudah mengenal dia sejak dulu. Berbeda dengan kebanyakan sahabat-sahabatku. Mereka tak selalu bisa menemani dan mengerti apa yang aku rasakan. Mereka lebih sibuk dengan urusannya masing-masing, sama seperti ayahku.

Dimas selalu bisa membuatku tersenyum, bagiku sekarang hal terindah dalam kehidupanku adalah bagaimana membuat dia tersenyum, juga membalas senyumnya dengan bahagia. Aku juga baru menyadari ternyata melihat sahabat berbahagia itu juga bisa membuat diriku sendiri bahagia. Tentu saja ini menambah rasa kagumku pada Dimas. Yang seolah telah membangunkan aku dari tidur panjangku selama ini.

Tapi kini aku merasa dia sedikit menjauh dariku. Sudah seminggu lebih aku tidak melihatnya. Aku selalu mengintip dari jendela kamarku. Aku berharap agar dia muncul kembali dijalan kecil dipertengahan kompleks perumahan kami. Namun sangat disayangkan, berhari–hari aku menunggunya, menunggu akan kehadirannya. Tak sedikitpun bisa ku lihat senyumannya yang bisa membuat hatiku tenang.

Aku meraih Xperia ku dari atas meja belajar. Aku menghubunginya tapi sama sekali tak bisa terhubung, aku masih tak habis pikir, mengapa dia tiba-tiba menjadi berubah drastis. Apakah ada salahku yang tak bisa dimaafkan olehnya? Ah.. tapi aku tahu , Dimas bukan laki-laki seperti itu mungkin dia sedang ada urusan, sehingga tak sempat untuk mengaktifkan handphonenya. Tapi semakin aku memikirkan dia, aku semakin bertambah penasaran saja. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk datang mengunjungi rumahnya.

Aku mencoba menekan-nekan bel yang ada didepan gerbang rumahnya, sudah beberapa kali juga aku memanggilnya, tapi sepertinya rumah dimas kosong. Mungkin dia memang pergi meninggalkan aku. Kehilangan sahabat yang sangat baik seperti dia semakin membuatku pesimis. Mungkinkah akan nada lagi orang yang bisa menemaniku saat aku sendiri menjalani kehidupan di hari-hariku yang sunyi?

Seperti biasa, saat aku sedang galau dan ingin mencari hiburan. Aku akan duduk menyender dibawah sebuah pohon besar ditaman yang ada didekat danau. Aku memikirkan saat-saat dimas masih disini, ia menasehatiku untuk tidak melamun. Bahkan, kalau dia sedang gundah, dia akan melemparkan batu-batu kecil ke tengah danau, aku teringat juga tentang apa yang ia katakan saat kami sedang berdua disini. “Zel, lemparin batunya agak miring ya, nanti batunya bisa berubah jadi batu ajaib lho. Dia akan melompat, bahkan lompatan batu yang kakak buat bisa sampai enam kali lompatan lho” haha.. kata-kata ajaibnya sampai sekarang masih bisa membuatku tertawa, mungkin ini rasanya bila ditinggal oleh sahabat yang biasa membuat lelucon, sangat-sangat kehilangan rasanya.
***

Setengah bulan sudah Dimas menghilang tanpa kabar, beruntungnya Ibuku sudah pulang. Sehingga aku tidak merasa terlalu kesepian. Aku banyak bercerita tentang Dimas kepada Ibuku, Ibuku meresponnya hanya dengan menyimpulkan senyum. Aku berhenti menceritakan Dimas. Aku merasa, semakin aku mengenangnya, semakin aku merasa kehilangan. Saat aku melamunkannya tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu.
“Tok..tok.. Assalaamu’alaikum….” Samar-samar terdengar suara laki-laki yang sepertinya sudah taka sing lagi ditelingaku.
“Wa’alaikumussalaam..” Ibukupun membukakan pintu untuknya
“Zel, kesini nak, ada teman kamu,” teriak ibuku dari depan rumah
“Iya Ma, tunggu sebentar”.

Bak tersambar petir rasanya, ternyata laki-laki itu adalah Dimas, orang yang selama ini kunanti-nantikan. Rasanya seperti keajaiban yang sangat luar biasa. Ternyata dia tidak benar-benar meninggalkan aku.
“hiks…Kakak!! Kemana aja sih? Bikin cemas tau! Aku nyariin kemana-mana. disms nggak bisa, ditelfon juga nggak diangkat, aku kira kakak ninggalin aku” ucapku sedih.
“Jangan mikir macem-macem deh, kakak kan udah janji buat nemenin Arzel” tuturnya menjelaskan.
“ya kan Arzel takut kak dimas lupa sama janji kita”
“Ih, ngobrolnya jangan didepan pintu ah, ntar kualat lho, kata orang jaman dulu…”
“Apa?” sahutku memotong pembicaraannya. Aku kesal, saat seperti ini masih saja dia mengajak aku bercanda.
“Nggak deh, nggak jadi”
“Ya udah, kita ke taman aja gimana?”
“Wah ide bagus tuh”.

Akupun menarik tangan kanannya, tiba-tiba sarung tangan dan sebuah benda jatuh dari lengannya.
“Kakak?? Ini apa?” tanyaku penasaran.
“itu .. itu ..” jawabnya dengan terbata-bata,
“Ini tangan palsu kak? Jadi…” belum selesai aku berbicara, ia gentian menarik tanganku dan berlari mengajakku menuju taman. Setelah sampai, diapun menjelaskan mengapa ia sampai harus menggunakan tangan palsu.
“Zel, inilah kakak yang sebenarnya. Kakak yakin suatu saat nanti, hal seperti ini pasti akan terjadi. Kakak cacat zel…”
“Kenapa kakak tidak pernah cerita dari dulu?”
“Kakak takut, kakak akan kehilangan sahabat kakak lagi”
‘Tapi kenapa begitu? Aku senang bisa punya kakak angkat seperti kak dimas”
“Kakak tidak pernah mengerti fikiran dan isi hati tiap-tiap orang. Kakak tidak pernah tau kalau arzel benar-benar menyayangi sosok dimas sebagai kakak arzel dengan tulus”
“Kakak itu sudah arzel anggap seperti kakak arzel sendiri, apa kakak tidak pernah mengerti, bagaimana arzel ngejalanin hari-hari tanpa kakak? Sepi kak!! Sepi!!” aku mengatakannya sembari menangis, tapi seolah dia tak percaya padaku, malahan dia meninggalkan aku sendiri.
Sesampainya dirumah, nada sms di Xperia-ku berbunyi, ku tatap layarnya, ternyata kak dimas yang mengirim sebuah pesan singkat untukku.

05.35 pm
Zel, kamu taukan rasanya sendirian itu kaya gimana?, pasti sangat menyebalkan. aku sedih melihatmu sendiri. Karena aku hampir setiap hari merasakannya. Zel kalau kamu masih ingin aku jadi kakak mu, besok kamu pergi ke taman di pinggir danau ya..?
Aku merenung sejenak, mengartikan apa maksud dari sms itu. Mungkin aku terlalu berlebihan untuk memikirkan orang yang belum lama ini ku kenal. Tanpa sadar, hampir larut malam juga, aku memejamkan mataku, mencoba bermimpi. Mungkin saja yang dikatakan Ibuku benar “Mimpi adalah ingatan, lewat mimpi kita bisa melihat”. Aku ingin mengetahui, apa yang akan Dimas katakan saat kita bertemu nanti.
***

Sepulang sekolah, aku bergegas menuju taman. Disini, dipinggir danau. Aku menunggunya datang. Tak berapa lama aku menantinya, akhirnya dia pun muncul. Perlahan tapi pasti, ia mulai menceritakan masa-masa kecilnya. Ia bercerita padaku bahwa ia sudah cacat sejak lahir, bahkan yang lebih membuat aku terkejut, ia tak pernah merasakan bagaimana susah dan senangnya belajar di sekolah formal. Katanya dia dulu sempat masuk ke sekolah, tapi karena teman-temannya mengetahui kalau dia tidak memiliki tangan sebelah kanan, semua sahabatnya menjauhi dia. Teman-temannya seolah menganggap dia seperti monster. Dan karena itu untuk sekedar menyapanya saja sahabatnya tidak ada yang mau.
Dimas terus bercerita padaku tentang apa yang dia alami. Satu kesimpulan yang bisa aku ambil, dia lebih kesepian dalam menjalani hari-harinya. Dia berkata padaku “Kamu harus bersyukur karena kamu masih memiliki sahabat, walaupun mereka jauh darimu. Tidak seperti aku, satupun aku tidak memiliki sahabat di kediamanku yang dulu. Aku beruntung sekarang ada kamu sebagai adikku”.
Aku menjadi tersadar kembali, ternyata aku tidak boleh selalu melihat keatas. Aku merasa aku paling malang didunia ini. Tapi ternyata ada yang lebih menderita dari aku.
“Kakak sudah menceritakan semuanya, sekarang terserah arzel masih ingin menjadi adik kakak, atau justru menjauh dari kakak”.
“Buat aku, kakak terlalu special untuk dijauhi. Aku juga sendiri, jadi aku tak punya alasan untuk meninggalkan kakak”
“Kakak bahagia mendengar ini semua, terimakasih kamu tetap mau bersamaku”

Setelah dia menjelaskan itu semua, Ia mengajakku pulang. Sesampainya di rumah, aku melemparkan tasku diatas kasur. Semua buku-buku pelajaranku berserakan. Entah mengapa rasanya malas sekali aku membereskannya. Padahal harusnya saat ini aku merasa bahagia karena kak dimas sudah kembali.

Hari-hariku masih sama seperti biasanya, aku masih sering bermain bersama kak dimas, entah mengapa walaupun kami hanya sering bermain di taman, kami sedikitpun tidak pernah merasa bosan. Lagi pula aku tak pernah merasa sebahagia saat aku bersama kak Dimas. Kak Dimas pernah mengatakan bahwa impian besarnya adalah menjadi seorang pembalap. Sayangnya semua itu ia lupakan, karena ia sadar, tanpa tangan kanannya, ia bukan apa-apa.

Tapi bukan hanya itu yang menjadi impiannya. Dia juga ingin menjadi pelari profesional, karena baginya dengan berlari ia dapat menangis dan tersenyum, bahkan walaupun dia kalah, dia masih tetap mengatakan “Aku sudah sering kalah, satu hal yang aku pelajari dari kekalahan adalah, belajar tentang diriku dan orang lain. Agar suatu saat nanti aku bisa menjadi pemenang”. Ya, kata-kata itu masih bisa memotivasiku agar tetap maju dan pantang menyerah.
“Zel!! Kesini nak, ayo ikut mama” teriak ibuku dari depan rumah
“Iya ma, tunggu bentar” Ucapku panik
“Ayo ikut mama nganterin dimas, dimas sakit”
“Apa? Kak dimas sakit?? Kak dimas sakit apa ma?” tanyaku, shock mendengar penjelasan mama.
“Sudah nanti kamu juga tau sendiri. Sekarang kita bantu orang tuanya dimas nganterin dia kerumah sakit”
“Iya ma, ayo”

Aku, Mama dan Orang tua Dimas pun menuju rumah sakit dengan panik. Orang tuanya mengatakan bahwa tadi kak Dimas pingsan dan tak kunjung siuman. Jadi mereka panik dan meminta tolong ibuku untuk membawa Dimas ke rumah sakit.
***

Hampir satu bulan Dimas belum sadarkan diri, aku iba melihatnya terbaring lemah disana. Setiap hari sepulang sekolah aku menjenguknya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja. Aku menunggunya sampai dia sadar dan bisa menemani dan menghiburku lagi, menyemangati aku dan member makna kehidupan untukku, Aku sadar, ada banyak Dimas didunia ini. Tapi Dimas yang luar biasa hanya kak Dimas seorang.

Ibu Kak Dimas tiba-tiba menghampiriku, Ia memberikan selembar surat dari kak dimas. Katanya, kak dimas menulis surat itu ketika ia sadar dari komanya. Yang anehnya aku tidak pernah mengetahui saat-saat kak Dimas siuman, mungkin saat aku sedang berada disekolah. Jadi aku tidak mengetahuinya…

Dear Arzel, adikku sayang…

Maafkan aku tidak bisa mewarnai setiap hari-harimu lagi.
Yah.. beginilah aku, dari kecil sampai sekarang memang sakit-sakitan.
Aku merasa bosan terus begini, bahkan terkadang aku berniat menghabisi nyawaku sendiri.
Namun saat aku tersadar kembali, aku memiliki orang-orang yang sangat menyayangiku.
Jadi aku mengurungkan niat bodohku itu,.
Aku tau, kehidupan ini hanya menginginkan aku untuk ikhlas dan mensyukuri apapun kekuatan yang ada padaku dan menggunakannya untuk melakukan sesuatu yang berguna untukku, keluargaku dan sesamaku.
Zel.. sebenarnya tak banyak yang kamu butuhkan untuk menjadi pribadi yang damai,
Mintalah bantuan Allah, dialah yang akan menguatkan bagian dimana engkau lemah.
Zel .. saat tuhan memanggilku nanti, kamu jangan sampai menangis. Aku tau kamu pasti mengerti kalau aku, hanya pulang kerumahku yang lebih nyaman.
Jadi, maafkan semua kesalahanku selama ini.
Never give up! Keep on fighting!
Aku harap, aku tetap bisa menjadi sahabatmu selamanya

Tertanda
Dimas Fernanda

Akupun menangis seketika setelah membaca surat itu, tapi aku sadar dia pasti tak akan suka melihat aku menangisinya. Karena tak tahan menahan air mata terus tumpah ini. Aku memutuskan untuk tidak menemuinya sementara waktu. Aku berharap dengan begini, aku bisa menghilangkan rasa sedihku.

Tiba-tiba mama menelfonku
“Halo… zel, kamu dimana?”
“Aku dirumah ma, ada apa?”
“Cepat kerumah sakit”
“Ada a….” belum sempat aku bertanya tentang apa yang terjadi mama sudah menutup telponku. Aku bergegas menuju rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu dengan Dimas.

Setibanya di Rumah sakit, aku bingung mengapa semua orang menangis. Bahkan mamaku pun ikut menangis. Segera aku menuju ke ruang rawatnya Kak Dimas. Aku bungkam seribu bahasa melihat apa yang telah terjadi pada kak Dimas. Seolah dunia ini berhenti berputar. Dia! Dimas, telah pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku merasa kesal kepada diriku sendiri, betapa bodohnya aku. Kenapa aku harus pergi disaat-saat terakhirnya.

Aku menyesal harus melihat dia yang terakhir kali, dengan kondisi tak bernyawa. Andaikan aku bisa memutar kembali tangan waktu. Aku tak akan pergi meninggalkannya.

Aku teringat pesan Dimas, dia melarangku agar tidak bersikap kekanak-kanakan lagi. Akupun malu, malu pada sifatku yang masih seperti itu. Aku mencoba untuk tidak menangis, tapi apa daya, air mataku tetap tumpah. Ah.. apa bisa waktu ku pinjam agar aku bisa bertemu dia lagi?
***

Setelah pemakaman Dimas selesai, aku berjalan kembali menuju danau. Aku duduk dan menatap lagi permukaannya yang tenang. Tanpa terasa, buliran air mengalir dari pelupuk mata. Aku memejamkan mataku, lalu melemparkan batu ke danau. Tapi semakin aku melakukannya, semakin aku teringat kenangan-kenangan indah bersamanya.

Mentari bersinar begitu cerah, kupandangi warnanya yang sedikit ke emasan. Ia terlihat seperti sedang tersenyum padaku. Dan kurasa senyum itu adalah senyum Dimas.
Aku merasa sedikit kecewa, ia tidak menepati janjinya untuk tetap menemani dan selamanya menjadi sahabatku. Tapi mungkin ityu sudah kehendak tuhan, apa daya tak ada yang bisa ku perbuat, aku hanya bisa mendo’akannya disini.

Hari ini, suatu hari di bulan September 2012. Aku merelakan kepergianmu. Aku mencoba mengerti, walaupun dia tak ada lagi disini, tapi kenangan-kenangannya akan selalu membuat dirinya hidup. Hidup disini, di hati setiap orang yang menyayanginya.
Tenanglah disana…
Kakak ku sayang...
-Tamat-
 
Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2013. NONTON BOKEP, DOWNLOAD BOKEP, STREAMING BOKEP - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger jasa seo | Created By ThemeXpose | viagra | | mebel jepara | alat bantu sex | produk moment service sofa bandung | vimax jasa seo | jasa seo medan vimax tukang taman surabaya | mebel jepara jual bambu medan mebel jepara SERVICE SOFA BANDUNG | perangsang wanita JASA SEO VIMAX ASLI OBAT PEMBESAR PENIS JUAL OBAT ABORSI OBAT PEMBESAR PENIS OBAT PENGGUGUR KANDUNGAN OBAT KUAT VIAGRA OBAT KENCING NANAH VIMAX ASLI Obat pembesar hammer of thor OBAT PEMBESAR PENIS Hammer of Thor Hammer of Thor service sofa bandung TUKANG TAMAN SURABAYA VIMAX RENTAL MOBIL MEDAN TUKANG TAMAN SURABAYA RENTAL MOBIL MANADO TOKO BUNGA BANDUNG