logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

tuntun syahadatku

seorang siswa MAN Meulaboh bernama Furqan memiliki beberapa teman, diantaranya Zaman, Muhayat, SiO dan Rizky. Mereka selalu berempat, dan pada suatu malam mereka berkumpul di rumah Furqan.
“Qan, mau ngapain kita ne?” tanya Zaman.
“Ya gak ngapa-ngapain, duduk nyantai aja” jawab Furqan.
“Kita cerita yuk” usul Muhayat.
“Boleh, siapa duluan?” Rizky bertanya.
“Iky” Furqan, Zaman, Muhayat menjawab sekalian.
“Ih, kenapa aku yang pertama pulak? Boleh jugalah” jawab Iky.
“Ky ceritanya yang seur-suer ya” pinta Muhayat.
“Jadi gini ceritanya, dulu itu aku punya cewek, bisa dibilang mantan akulah, dia baik kali. Seingat aku pas hape aku rusak, kan gak bisa smsan itu, dikasihnya hape untuk aku, baik dia kan, udah ah ceritanya” cerita Iky.
“Jeh kok pendek kali” tanya Zaman.
“Cape tahu cerita banyak-banyak, gantianlah” balas Iky.
“Sekarang zaman pula yang bercerita” kata Muhayat.
“Kalian mau cerita apa?” tanya Zaman.
“Cerita apa aja boleh, kamu banyak misterinya” ujar Furqan.
“Gini ceritanya, aku mau cerita tentang masa lalu aku ajalah, ini pacar pertama aku di MAN ini, awalnya kami cuma dekat-dekat doang, biasalah kalau namanya ketua kelas itu mau ke sana ada yang panggil, mau ke sini ada yang panggil, sibuklah pokoknya, aku sering kali sms sama dia, tiba-tiba udah panggil-panggil sayang, itu tanggal jadiannya aja gak tahu, ada sempat tukar hape, abestu udah lama berjalan tiba-tiba udah putus gak ada seba, gimana rasanya itu, ada yang bisa rasain? Udah nembak gak pernah pas putus sakit hati pulak” cerita Zaman panjang lebar.
“Mantap ceritanya Man, ada yang lain lagi gak?” tanya Furqan terpukau.
“Banyak masih, tapi gak boleh cerita banyak-banyak, kamu pula yang bercerita Qan” paksa Zaman.
“Tuan rumah mana boleh cepat kali cerita, nanti yang terakhirlah” ejek Furqan.
“Iyalah itu” Zaman sebel.
“Sekarang cerita SiO pulak, mana kawan kita yang pesong itu?” tanya Furqan.
“itu dia, Oh kesinilah, ngapain kamu di situ?” Muhayat memanggil SiO.
“Aku lagi lihat ke jalan Yat, lagi tunggu kawan aku yang pake baju putih” jawab SiO.
“Emang tunggu siapa kamu O?” tanya Iky.
“Tunggu pocong Ky, hahaha” SiO ketawa sendiri.
“Emang pesong dia tu, gak ada yang lucu pun O” tanggap Zaman.
“Kalau gak ada lucu ya udah, gak usah marah-marahlah, apa panggil aku tadi?” SiO menuju arah Muhayat.
“Kami sedang becerita nih, sekarang giliran kamu pulak” jawab Muhayat.
“Oh gitu, jadi?” tanya SiO.
“Emang pesong kamu O, aku kira udah konek, rupanya ada kabel yang putus satu ya” Muhayat mulai kesal.
“Iya iya ngerti aku, ne aku ceritain yang paling buat aku sakit hati sampe sekarang” SiO mau mulai.
“Sama anak yang itu O ya?” Muhayat memotong perkataan SiO.
“Muhayat nih ribut kali, gak usah nyambung dulu Yat, gak enak lagi ceritanya nanti” Marah Iky.
“Jadikan gini ceritanya, pas belum bulan puasa kemarin itu, kita baru naik kelas, ada cewek yang dekat dengan aku, orangnya baik, cantik, putih, pokoknya tipe aku banget, kami sering cerita-cerita tentang satu sama lain, kira-kira udah dua bulan, aku gak sanggup tahan lagi, lewat FB aku coba buat ngungkapin perasaan aku ke dia, tapi apa tau kalian?” Si O bercerita lalu bergabung bertanya.
“Gak tahu apa-apa kami” jawab Zaman.
“Pas aku inbox dia kan, rupanya pacar dia yang balas inbox aku” Si O histeris.
“Terus apa dibilang O?” tanya Iky penasaran.
“Susah jelasinnya, gini ajak nih kalian lihat sendiri inboxnya” Si O memberikan hapenya.
Mereka pun melihat apa yang terjadi di inbox tersebut, ternyata dengan kata yang sopan, pacar orang yang disukai Si O mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan perhatian kepada pacarnya tersebut, gimana persaan Si O? Pasti sangat-sangat terluka.
“Nih O, udah kami lihat, kasian juga kamu ya” dengan nada rendah Furqan memberikan hape Si O.
“Sekarang cerita Muhayat pulak” ujar Zaman gak sabar.
“Oke, nih aku ceritain masa lalu aku aja yah. Dulu itu pas baru tsunami, aku pulang kamu ayah aku, ke malang, masih kecil lah kelas tiga SD tu. Di sana aku sekolah juga buat nyambung sekolah di sini soalnya kan di sini lagi perbaikan. Di sana aku ketemu sama cewek cantik loh, aku suka sama dia, dia pun suka sama aku, kami pacaran” cerita Muhayat.
“Masih kecil udah tahu pacaran kamu Yat” Si O ngomong setelah diam sedari tadi.
“Namanya juga anak kecil O, paling cuma cinta monyet” jawab Zaman.
“Kalian banyak kali ngomong, mau disambung gak?” semuanya pun diam.
“Kalian gak tahu dia orangnya gimana kan? Dia itu orangnya baik, pintar, cantik, anak pesantren lagi, siapa yang gak mau kalau di jadiin istri”
“Aku Yat, gak yang lebih dari dia (orang yang disukai Si O)” Si O main potong.
“Iyalah, itu karena kamu belum lihat dia. Dan akhirnya aku balik lagi kesini dan hubungan kami terputus, bersambung deh” Muhayat nyengir.
“Yah kok gitu, cerita setengah-setengah” SiO kecewa.
“Tuh si Uqen suruh bicara, jangan cuma jadi pendengar setia” jawab Muhayat.
“Udah malam nih, coba lihat udah jam setengah dua, di samping rumah lagi ngaji orang meninggal kita malah ngegosip di sini, keluar hantunya baru tahu” Furqan cari alasan.
“Ya udah kami pulang dulu ya, udah ngantuk aku” kata Iky.
“Iya hati-hati ya, perasaan gak enak nih. O, hati-hati lewat rumah sakit ya, nanti ada yang kamu bonceng pulak” Salam Furqan.
“Iss si bos nih, jangan takut-takutinlah” Si O marah.
“hahaha” mereka tertawa bersama.
Keesokan harinya Furqan pergi sekolah seperti biasanya, jalan kaki berhubung rumahnya dekat dan supaya ada olahraga sedikit. Di kelas terdapat suasana yang sangat tidak menyenangkan, ada yang ketawa sendirilah, ada yang dari datang sampai pulang gak lepas-lepas berduaan orang pacaran dan banyak lain-lain lagi.
Ketika jam istirahat Furqan dan Iky pergi berkeliling sekolah, ketika di depan kelas Furqan melihat seorang yang sangat menawan, lalu bertanya kepada Iky.
“Ky yang di bawah pohon bambu itu siapa?” tanya Furqan.
“Yang mana Qen?” Iky tanya balik.
“Yang itu hay” sambil menunjuk seorang wanita manis.
“Yang duduk tu Qen?” tanya Iky lagi.
“Bukan, itu tu lihat baik-baik” Furqan menegaskan.
“Oh yang itu ya, yang mana Qan?” Iky sedikit tertawa.
“Yang, MasyaAllah” Furqan terkejut karena wanita yang ditunjuk rapat dibelakangnya.
“Ini namanya Murti Qen” jawab Iky.
“Oh iya, iya, kenapa gak bilang kalau dia di belakang aku” Furqan berbisik dan menarik Iky.
“Ngapain dibilang pulak, kan kamu mau kenal sama dia, dia itu adik kelas kita, kamu suka sama dia ya?” tanya Iky.
“Eh nggak kok, tapi manis ya Ky” Furqan terpesona.
“Sok bilang nggak kamu Qen, nampak kok dari wajah kamu kalau kamu suka sama dia, malah ditulis itu, Furqan suka Murti” ledek Iky.
“Iky copy-copy gaya favorit aku, macam gak ada gaya lain aja” balas Furqan.
Dan mereka pun kembali ke kelas mereka yang super idiot dengan segala jenis makhluknya.
Dan mulai dari kejadian tersebut Furqan berkenalan dengan Murti, dekat dan semakin dekat, lebih dekat dan sangat dekat, akhirnya mereka pun resmi jadian. Semuanya terasa begitu indah, mulai dari hari yang dilewati Furqan, sampai tidur pun terasa begitu indah karena seorang bidadari selalu hadir dalam setiap mimpinya.
Pada bulan berikutnya Furqan dan Murti membuat janji di taman dekat taman kota, mereka sering mengunjunginya dan hari yang di janjikan pun tiba.
“Abang” Murti memanggil.
“Tuan dik” Furqan menjawab.
“Udah lama sampek bang?” Murti bertanya karena agak telat datangnya.
“Belum kok dik, baru aja sampai” jawab Furqan.
“Lagi ngapain tadi bang? Melamun ya? Ngelamunin siapa hayo?” Murti mencoba membuat Furqan salah tingkah.
“Gak lagi ngapa-ngapain kok, kalau melamun pun paling ngelamunin adik” Furqan mengejek Murti dan membuatnya salah tingkah.
“Dik, nih abang ada belik es klim cokat tadi” sambil memberikan kepada Murti.
“Yee dikasih es krim, emang tahu kali apa yang orang suka, nih adik juga bawain cokat cadbury buat abang, ekspor langsung dari jerman” Murti memberikan cokat.
“Entah apa-apa dibilangnya, makasih ya dik” Furqan tertawa.
Dan mereka menikmati makanan tersebut sambil melihat begitu ramainya pengunjung taman yang sedang berduka cita, berdua di bangku taman yang indah.
“Adik” panggil Furqan.
“Tuan bang” jawab Murti.
“Seandainya nanti abang pergi jauh gimana?” tanya Furqan.
“Emangnya abang mau kemana?” tanya Murti cemas.
“Gak kemana-mana dik, kalau seandainya aja” Furqan menjelaskan.
“Jangan pergi jauh-jauh lah bang, nanti gak ada yang kawanin adik lagi, abang gak boleh pergi kemana-mana pokoknya” larang Murti.
“Adik, abang tahun nih mau tamat, nanti abang kuliah keluar daerah dik” Furqan coba jelasin perlahan.
“Gak boleh, kan UTU ada, nanti kita bisa ketemu setiap hari” Murti tetap melarang.
“Dik jauhan dikit boleh kuliahnya?” tanya Furqan.
“Adik bolehin kok bang, tapi adik mau abang janji akan setia sama adik, kalau adik tahu abang gak setia, adik bunuh diri” Murti tertunduk dan raut wajahnya berubah menjadi sedih.
“Lihat mata abang dik, abang janji akan setia sama adik” Furqan menatap mata Murti.
“Demi Allah?” tanya Murti.
“Demi Allah, sayang” jawab Furqan.
Dan pembahasan tersebut pun berakhir, setelah terdengar suara ngajian di mesjid mereka pun pulang. Namun tak disangka setelah beberapa bulan berlalu hubungan mereka mulai kurang baik, sering terjadi pertengkaran. Dan pada suatu malam Muhayat tanpa diundang datang ke rumah Furqan.
“Eh Yat kok ke sini?” tanya Furqan.
“Gak ada opo-opo Qen, bosan kali aku di rumah” jawab Muhayat.
“Kirain diusir dari rumah tadi” Furqan mulai ngelawak.
“Gak ada, duduk di samping itu aja yok” ajak Muhayat.
Dan mereka duduk di samping toko di depan rumah Furqan. Sambil menatap langit dan mendengarkan lagu selow.
“Yat aku lagi galau nih” kata Furqan.
“Galau kenapa lagi Qen?” tanya Muhayat.
“Aku sayang kali sama dia” jawab Furqan.
“Aku juga pernah rasainnya” ujar Muhayat.
“Kamu pernah suka sama dia” Furqan terkejut.
“Bukan Qan, maksud aku posisinya sama kayak kamu, gara-gara galau antene jadi pendek ya” Muhayat menjelaskan.
“Oh iya, Yat” Furqan mengangguk.
“Dulu aku sempat juga gak diopen, sampai-sampai aku rencanain mau lupain dia, aku buatlah di status FB gini, melupakan seseorang yang kita cintai sama halnya dengan mengingat orang yang belum pernah kita kenal. Tapi aku akan membuktikan bahwa pernyataan itu salah” abis itu dia langsung baikan sama aku” cerita Muhayat.
“Wah, kamu enak Yat ganteng, kalau aku mana bisa gitu” Furqan pesimis.
“Betul juga apa yang dibilang kausar itu, masa ada yang bilang kamu ganteng Qan, kurang hajar kali kautsar itu” Muhayat ngeledek.
“Haahaha,” mereka tertawa bersama.
“Yat coba lihat itu, bintang bunda aku itu, yang paling terang, kalau bulan purnama tu bulan bunda aku” Furqan berbicara dengan nada pelan dan air matanya menetes.
Ketika Furqan dalam perjalanan ke sekolah, dadanya terasa sesak, pandangannya mulai menghitam dan lama kelamaan kehilangan kesadaran. Dia tak sadarkan diri selama dua hari, dan kemudian siuman.
“Di mana Uqan kak nira?” tanya Furqan.
“Di rumah sakit Qan” jawab kak nira.
“Ngapain di rumah sakit? Emang siapa yang sakit?” tanya Furqan.
Kak nira hanya menjelaskan semuanya dan Furqan tersenyum.
“Assalamu’alaikum” terdengar suara dari belakang pintu.
“Waalaikumsalam, eh Yat sama siapa pergi?” tanya Furqan.
“Sama yang lain Qan, Iky sama Zaman lagi di luar, Si O lagi di jalan mungkin bentar lagi nyampe” jawab Muhayat.
“Oh duduk dulu Yat, maaf aku di atas ya” Furqan mempersilakan.
“Gak apa-apa kok Qan” Muhayat duduk.
Di luar Zaman dan Iky bertemu dengan Susi, dia adalah teman baik Murti.
“Eh bang Zaman, bang Iky, bang SiO lagi, ngapain ke rumah sakit rame-rame?” tanya Susi.
“Emangnya kenapa Si? Gak boleh? Kan bukan rumah sakit Susi ne” SiO menjawab.
“iss abang ne, kan cuma tanya aja” Susi sewot.
“apa dengar kali bang O bilang tu, kami mau jenguk kawan sakit Si” jawab Zaman.
“Emang siapa yang sakit bang?” Susi bertanya lagi.
“Emm… Ky bilang apa gak?” tanya Zaman ke Iky.
“Gak usah aja Man” kata SiO.
“Bilang terus Man” perintah Iky.
“Kok main rahasia-rahasiaan sih?” Susi bingung.
“Bang Uqen yang sakit Si” jawab Zaman.
“Sakit apa bang?” tanya Susi.
“Gak tahu, kami pun baru datang ne” jawab Iky.
“Boleh ikut jenguk bang?” pinta Susi.
“Boleh” jawab Zaman.
Dan mereka pun masuk ke ruang internis kamar raflessia.
“Bos kami datang” sapa SiO.
“Eh O, Iky, Zaman, loh kok ada Susi?” Furqan terkejut.
“Tadi ketemu sama orang tu bang di luar, Sisi lagi jenguk saudara SiO sakit” jawab Susi.
“Oh ya udah silahkan duduk” ujar Furqan.
“Kok lama kali orang nih, cape aku tunggu” tanya Muhayat.
“Tadi ngomong sama Susi dulu di luar, makanya lama” jawab Zaman.
“itulah Susi itu tadi nganggu kami” kata SiO.
“Lagi ngomongin apa tu? Ngomongin Susi ya? Nanti suka semua pulak sama Susi” furqan mencoba membuat suasana tidak tegang.
“Aku udah punya Raudha” jawab muhayat santai.
“Aku udah punya Maria” Zaman ikut Muhayat.
“Aku juga punya Fitri” Iky nyambung.
“Aku gak punya siapa-siapa ya? Aaaaaaa” SiO mulai histeris.
“O jangan gedek kali suara, bangun mayat di kamar samping dikejar-kejar kamu nanti” Furqan meledek SiO.
“Qen, kapan masuk sekolah lagi?” tanya Muhayat.
“Mungkin sekitar tiga hari lagi Yat” jawab Furqan.
“Bang sakit apa? Kok sampek nginap di rumah sakit?”
“Si janji dulu ya, jangan bilang-bilang sama Murti, sebenarnya abang sakit.” kata Furqan tersenyum.
Dan Furqan menjelaskan penyakit yang dideritanya kepada mereka, semuanya hanya terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Dua hari sudah setelah Muhayat dan yang lain-lainnya menjengguk Furqan di rumah sakit. Dan pada hari itu Susi ketemu sama Murti.
“Bebet” Susi manggil.
“Tuan bet, ada apa?” jawab Murti.
“Gak ada apa-apa Ti, gimana sama bang Uqen?” tanya Susi.
“Gimana apanya Si?” tanya Murti balik.
“Kamu gak tau apa-apa tentang bang Uqen?” tanya Susi lagi.
“Emang ada apa sih? Kami kan gak ada apa-apa lagi, dan bukan siapa-siapa lagi” jawab Murti tegas.
“Kecewa Si sama Ti, bang Uqen lagi di rumah sakit ti, udah empat hari dia di situ, orang yang paling sayang sama Ti, Ti gak tahu apa-apa?” Susi marah.
“Mana ada, paling cuma akal-akalan kalian aja” sanggah Murti.
“Kemarin aku ketemu sama kawan bang Uqen di rumah sakit, bang Uqen cerita tentang penyakitnya, bang Uqen menderita kanker jantung, dia gak lama lagi mungkin dua hari lagi, kalau dihitung dari dia bilang itu hari ini tepatnya, kalau Ti gak percaya pergi aja ke rumah sakit, ruang internis kamar Raflessia, bang Uqen minta tolong sama Si jangan beri tahu Ti, dia takut bani Ti sedih” Jelas Susi.
Lalu Murti diikuti Susi pergi ke kelas Furqan dan bertemu dengan Raudha.
“Kak Raudha, bang Furqan mana?” tanya Murti.
“Gak datang dia dik ee, udah dua hari, katanya sih sakit” jawab Raudha.
“Bang Muhayat mana kak?” tanya Susi.
“Kayaknya dia ke rumah sakit sama bang Zaman, bang Iky, bang O dik, entah ngapain ke situ” jawab Raudha.
“Betul kan apa aku bilang, Ti sih gak percaya” Susi merepet.
“Oh ya udah, makasih kak ya, kami pergi dulu” Murti pamit.
Mereka pun langsung pergi ke rumah sakit, dan di sana keadaan Furqan semakin memburuk. Di sana ada Muhayat dan yang lainnya, mereka menunggu Furqan yang tidak sadarkan diri dari tadi. Ketika Murti sampai di kamar Furqan, dia pun sadarkan diri.
“Abang” Murti memanggil.
“Tuan, kok adik disini? Pasti Susi yang bawa kan” jawab Furqan.
“Iya bang, kok abang gak bilang-bilang sama adik?” tanya Murti sambil menangis.
“Abang gak mau buat adik sedih, abang mau lihat adik bahagia dan senyum selalu” jawab Furqan.
“Abang jangan pergi ya, abang kan udah janji sama adik” pinta Murti.
“Abang gak kuat lagi dik” jawab Furqan terbata-bata.
“Jangan ngomong gitu bang, abang masih kuat” Murti mencoba menyemangati.
“Gak dik, abang tau kok kapan waktunya” Furqan pasrah.
“Adik sayang sama abang, jangan pergi bang” Murti menangis.
“Abang juga sayang sama adik. Dik, abang boleh minta tolong?” tanya Furqan.
“Boleh bang, abang mau minta apa?” Murti menyanggupi.
“Tuntun Syahadat abang dik ya” pinta Furqan.
“Asyha… Du… AlLaa. . . Ila. . . Ha illallah. . . Wa. . . Asyha. . . Du. . Anna. . . . Muham. . . Madan. . . Abdu. . . Hu. . Wa. . . Rasu. . . Luh. .” Murti membimbing dan Furqan mengikuti.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” ucap semua yang ada di sekitar Furqan.
Semuanya meneteskan air mata. Furqan pun pergi dengan senyuman di wajahnya.
The End
Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2013. NONTON BOKEP, DOWNLOAD BOKEP, STREAMING BOKEP - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger jasa seo | Created By ThemeXpose | viagra | | mebel jepara | alat bantu sex | produk moment service sofa bandung | vimax jasa seo | jasa seo medan vimax tukang taman surabaya | mebel jepara jual bambu medan mebel jepara SERVICE SOFA BANDUNG | perangsang wanita JASA SEO VIMAX ASLI OBAT PEMBESAR PENIS JUAL OBAT ABORSI OBAT PEMBESAR PENIS OBAT PENGGUGUR KANDUNGAN OBAT KUAT VIAGRA OBAT KENCING NANAH VIMAX ASLI Obat pembesar hammer of thor OBAT PEMBESAR PENIS Hammer of Thor Hammer of Thor service sofa bandung TUKANG TAMAN SURABAYA VIMAX RENTAL MOBIL MEDAN TUKANG TAMAN SURABAYA RENTAL MOBIL MANADO TOKO BUNGA BANDUNG